Rabu, 19 Agustus 2026

Kala Sekolah Nyaris Rubuh Ditikam Mangkraknya Proyek: Jeritan SDN Sukaluyu III yang Luput dari Perhatian"


Suara Hati Rakyat my.id.Di tengah deru pembangunan Kabupaten Karawang, sebuah potret kontras tersaji di Dusun Babakan Islam, Desa Sukaharja, Kecamatan Telukjambe Timur. Alih-alih menghadirkan rasa aman dan semangat belajar bagi ratusan anak bangsa, proyek Pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SDN Sukaluyu III justru menjelma menjadi monumen kecemasan: mangkrak, terbengkalai, dan luput dari pengawasan.
​Proyek yang digadang-gadang menjadi angin segar penolong dunia pendidikan ini kini justru menyisakan tanda tanya besar di benak para orang tua murid.
​Proyek Ratusan Juta: Wujudnya Pondasi Asal Jadi, Penampakannya "Hantu" Tanpa Pekerja.
​Berdasarkan papan informasi di lokasi, proyek yang dibiayai oleh APBD Kabupaten Karawang ini menelan anggaran sebesar Rp284.292.000,00. Dipercaya sebagai kontraktor pelaksana adalah CV. Arkaan Watamaam dengan nomor kontrak 000.3/02/SPK.RKB.01.P12/SARPRASIVI/2026. Sesuai jadwal, proyek berdurasi 90 hari kalender ini harusnya digarap sejak 25 Juni hingga 22 September 2026.
​Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Jangankan rampung, wujud bangunannya saja baru menyentuh tahap pondasi dengan kualitas yang dinilai asal-asalan. Lebih parahnya lagi, tak ada papan gambar kerja, apalagi satu pun pekerja yang menampakkan batang hidungnya. Sunyi, mangkrak, dan dibiarkan terbengkalai selama hampir sebulan penuh.
​"Pekerjaan baru sebatas pondasi dan terkesan asal jadi. Sudah sebulan dibiarkan mangkrak tanpa ada pekerja sama sekali," cetus seorang wali murid dengan nada geram.
​Belajar di Antara Perpustakaan Sempit, Musola, hingga Bayang-Bayang Runtuhnya Atap
​Bagi para siswa dan orang tua, kehadiran ruang kelas baru ini adalah harga mati. Saat ini, SDN Sukaluyu III hanya memiliki 9 ruang kelas yang harus berSesakan menampung 450 siswa—angka yang terpaut jauh dari kebutuhan ideal sebanyak 12 ruang kelas.
​Akibat krisis ruang ini, pemandangan kegiatan belajar mengajar (KBM) berubah menjadi getir:
​Siswa yang tidak kebagian kelas terpaksa mengungsi ke ruang perpustakaan yang sempit dan seadanya.
​Sebagian lainnya harus puas menimba ilmu di dalam musola atau bahkan belajar di luar kelas tanpa fasilitas yang memadai.
​Namun, masalah terbesarnya bukan sekadar kesempitan ruang, melainkan ancaman maut yang mengintai setiap detik. Kepala Sekolah SDN Sukaluyu III dengan terbuka mengakui bahwa kondisi bangunan eksisting sudah berada di ambang bahaya. Kayu penyangga atap sudah lapuk parah, dan setiap kali hujan turun, air dipastikan merangsek masuk ke dalam kelas.
​"Kondisi atap sudah rapuh dan dikhawatirkan runtuh menimpa murid yang sedang belajar," ungkap sang kepala sekolah dengan nada prihatin mendalam.
​Jeritan Orang Tua: "Kenapa Sekolah Darurat Dianaktirikan?"
​Kondisi ini memantik pertanyaan tajam yang mengarah langsung ke meja pemerintah daerah. Mengapa sekolah yang berada di zona darurat justru terkesan dianaktirikan?
​Pihak sekolah mengaku telah berulang kali melayangkan pengajuan perbaikan mendesak. Namun, realisasi seolah jalan di tempat. Muncul kecurigaan publik mengapa gedung-gedung sekolah yang sejatinya masih layak pakai kerap mendapat guyuran proyek bantuan, sementara sekolah yang nyaris ambruk ini seolah dibiarkan berjuang sendiri.
​"Jika pengajuan kami dianggap tidak benar, silakan dinas terkait maupun Bupati Karawang turun langsung cek kondisi sekolah kami. Saat ini kondisi ruang kelas kami sangat urgen dan butuh perhatian," tegas pihak sekolah.
​Kini, asa terakhir para orang tua dan guru tertuju kepada Dinas Pendidikan, instansi berwenang, serta Bupati Karawang. Mereka mendesak adanya inspeksi mendadak (sidak) lintas instansi secara langsung ke lokasi, sekaligus memberikan sanksi tegas kepada kontraktor nakal. Jangan sampai, asa anak-anak bangsa di SDN Sukaluyu III harus terenggut lebih dulu oleh reruntuhan bangunan akibat kelalaian birokrasi dan pemborong tak bertanggung jawab.
Penulis Ida Maryati

0 komentar:

Posting Komentar